DARI DEBU MENUJU KEHIDUPAN ILAHI
Memahami Manusia dan Jalan Keselamatan dalam Kristus
Siapakah manusia sebenarnya?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin kita mencoba menjawabnya, semakin kita menyadari bahwa manusia adalah misteri yang dalam.
Kita mengenal manusia melalui tubuhnya. Kita dapat melihat wajahnya, mendengar suaranya, mengenali gerak tubuhnya. Namun manusia bukan hanya apa yang tampak secara fisik. Di balik tubuh terdapat pikiran, kehendak, perasaan, ingatan, kesadaran, kerinduan dan kehidupan batin yang tidak selalu dapat dilihat oleh mata.
Lebih jauh lagi, manusia memiliki kerinduan yang tidak dapat sepenuhnya dipuaskan oleh dunia. Manusia mencari kebenaran, mencari kasih, mencari makna, bahkan mencari sesuatu yang melampaui dirinya sendiri.
Di sinilah iman Kristen membawa kita kepada sebuah pemahaman yang lebih dalam:
manusia diciptakan bukan hanya untuk hidup di dunia, tetapi untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Karena itu, ketika kita berbicara mengenai tubuh, jiwa dan roh, kita sebenarnya sedang berbicara tentang manusia secara keseluruhan. Dan ketika kita berbicara mengenai Gereja, Ajaran dan Sakramen, kita sedang berbicara tentang bagaimana manusia menjalani perjalanan hidupnya kembali kepada Allah di dalam Kristus.
Keduanya akhirnya bertemu pada satu pusat:
KRISTUS.
---
Manusia: Lebih dari Sekadar Tubuh
Kitab Kejadian menggambarkan manusia sebagai ciptaan Allah yang dibentuk dari debu tanah dan menerima napas kehidupan dari Allah.
“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
— Kejadian 2:7
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia bukan sesuatu yang hina.
Tubuh berasal dari ciptaan Allah.
Karena itu, Kekristenan tidak mengajarkan bahwa tubuh adalah sesuatu yang jahat yang harus ditinggalkan agar manusia dapat menjadi “spiritual”.
Justru sebaliknya.
Kristus sendiri mengambil tubuh manusia.
Ia lahir dari seorang perempuan. Ia bertumbuh. Ia makan dan minum. Ia berjalan bersama manusia. Ia menangis. Ia menderita. Ia disalibkan. Ia mati dan kemudian bangkit.
Dan kebangkitan Kristus sangat penting bagi pemahaman Kristen tentang manusia.
Kristus tidak bangkit sebagai sekadar roh tanpa tubuh.
Ia bangkit dengan tubuh yang dimuliakan.
Karena itu pengharapan Kristen bukan sekadar bahwa “jiwa akan pergi ke surga”.
Pengharapan Kristen adalah kebangkitan dan kehidupan kekal.
Tubuh manusia pun memiliki tujuan kekal.
---
Jiwa dan Kehidupan Batin Manusia
Lalu bagaimana dengan jiwa?
Dalam bahasa sehari-hari kita sering membayangkan jiwa sebagai sesuatu yang berada “di dalam” tubuh. Namun Kitab Suci menggunakan istilah jiwa dengan cakupan yang lebih luas.
Jiwa dapat menunjuk kepada kehidupan manusia, pribadi manusia, kehidupan batin dan keberadaan manusia itu sendiri.
Karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan bahwa manusia secara mutlak terdiri dari tiga bagian yang terpisah:
tubuh, jiwa dan roh.
Tradisi Kristen, termasuk tradisi Orthodox, melihat manusia sebagai satu pribadi yang utuh.
Tubuh tidak dimaksudkan untuk berjalan sendiri.
Pikiran tidak dimaksudkan untuk hidup tanpa kebenaran.
Kehendak tidak dimaksudkan untuk dikuasai oleh hawa nafsu.
Hati tidak dimaksudkan untuk dipenuhi kebencian.
Seluruh keberadaan manusia dipanggil untuk diarahkan kepada Allah.
---
Roh dan Kerinduan Manusia kepada Allah
Istilah “roh” juga mempunyai berbagai makna dalam Kitab Suci.
Dalam konteks tertentu, roh dapat menunjuk kepada napas kehidupan atau kehidupan batin manusia. Dalam konteks lain, “Roh” menunjuk kepada Roh Kudus, Pribadi Ilahi yang tidak boleh disamakan dengan roh manusia.
Yang penting untuk kita pahami adalah bahwa manusia tidak diciptakan sebagai makhluk yang tertutup dalam dirinya sendiri.
Manusia diciptakan untuk menerima kehidupan dari Allah.
Ada sesuatu yang sangat dalam dalam diri manusia yang membuatnya terus mencari makna, kebenaran dan kehidupan yang tidak berakhir.
Kerinduan terdalam manusia sebenarnya menunjuk kepada Penciptanya.
Santo Agustinus pernah merumuskan kegelisahan manusia dengan ungkapan yang sangat terkenal:
“Hati kami tidak akan tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau.”
Manusia dapat memiliki harta, jabatan, pengetahuan, popularitas dan berbagai keberhasilan, tetapi semua itu tidak dengan sendirinya menjawab kerinduan terdalam manusia.
Mengapa?
Karena manusia diciptakan untuk Allah.
---
Ketika Manusia Jatuh
Jika manusia diciptakan untuk hidup bersama Allah, mengapa kehidupan manusia justru dipenuhi penderitaan, dosa, kebencian dan kematian?
Di sinilah kita berhadapan dengan kenyataan dosa.
Dosa bukan hanya persoalan melanggar sebuah aturan.
Dosa adalah keterpisahan manusia dari Allah.
Ketika manusia berpaling dari Allah, seluruh kehidupannya mengalami kerusakan.
Pikiran menjadi gelap.
Kehendak menjadi lemah.
Keinginan menjadi tidak teratur.
Hubungan manusia dengan sesamanya menjadi rusak.
Tubuh mengalami penderitaan dan akhirnya kematian.
Karena itu dosa tidak hanya menyentuh “jiwa”.
Dosa menyentuh seluruh manusia.
Dan karena seluruh manusia terluka, keselamatan juga harus menyentuh seluruh manusia.
---
Kristus Datang Menyelamatkan Manusia
Di sinilah pusat iman Kristen menjadi jelas.
Allah tidak meninggalkan manusia dalam kejatuhannya.
Firman menjadi manusia.
Kristus masuk ke dalam sejarah manusia.
Ia tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan.
Ia masuk ke dalam kondisi manusia.
Ia mengambil kodrat manusia, kecuali dosa.
Ia mengalami penderitaan.
Ia menerima kematian.
Dan Ia mengalahkan kematian melalui kebangkitan-Nya.
Karena itu keselamatan bukan penghancuran kemanusiaan.
Keselamatan adalah pemulihan manusia di dalam Kristus.
Manusia tidak dipanggil untuk berhenti menjadi manusia.
Manusia dipanggil untuk menjadi manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah sejak awal.
Dan di sinilah kita mulai memahami mengapa Gereja begitu penting.
---
Gereja: Tubuh Kristus
Jika Kristus adalah sumber keselamatan, lalu di mana manusia menjalani kehidupan baru itu?
Jawabannya adalah:
di dalam Gereja.
Gereja bukan sekadar gedung tempat orang berkumpul pada hari Minggu.
Gereja juga bukan sekadar organisasi dengan struktur administratif.
Dalam Perjanjian Baru, Gereja disebut sebagai Tubuh Kristus.
Rasul Paulus menulis:
“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”
— 1 Korintus 12:27
Kristus adalah Kepala dan Gereja adalah Tubuh-Nya.
Karena itu Gereja mempunyai dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar organisasi manusia.
Gereja adalah komunitas umat yang dipersatukan dalam Kristus.
Di dalam Gereja manusia belajar hidup sebagai manusia baru.
---
Mengapa Kita Membutuhkan Gereja?
Ada sebuah gagasan yang semakin sering terdengar:
“Saya percaya kepada Tuhan, tetapi saya tidak membutuhkan Gereja.”
Sekilas terdengar sangat pribadi dan spiritual.
Namun jika kita melihat kehidupan Gereja mula-mula, kita menemukan sesuatu yang berbeda.
Kisah Para Rasul menggambarkan orang-orang percaya sebagai komunitas yang tekun dalam:
pengajaran para Rasul, persekutuan, pemecahan roti dan doa.
Mereka tidak menjalani iman secara individualistis.
Mereka hidup bersama.
Mereka belajar bersama.
Mereka berdoa bersama.
Mereka merayakan Ekaristi bersama.
Mereka menerima pengajaran para Rasul.
Artinya, sejak zaman apostolik, Kekristenan memiliki dimensi yang sekaligus bersifat:
iman, ajaran, persekutuan, ibadah dan kehidupan sakramental.
---
Gereja dan Ajaran
Namun Gereja tidak hanya berkumpul.
Gereja juga mengajarkan.
Mengapa?
Karena iman memiliki isi.
Kita tidak cukup berkata:
“Saya percaya kepada Yesus.”
Kita harus mengetahui:
Siapakah Yesus?
Apakah Ia hanya manusia?
Apakah Ia Allah?
Apa arti Inkarnasi?
Apa arti Salib?
Apa arti Kebangkitan?
Siapakah Roh Kudus?
Apa arti keselamatan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan persoalan kecil.
Pemahaman kita tentang Kristus menentukan bagaimana kita memahami keselamatan.
Karena itu Gereja menjaga iman yang diterima dari para Rasul.
Inilah yang dikenal sebagai Tradisi Suci.
Tradisi Suci bukan sekadar kebiasaan lama.
Tradisi Suci adalah kehidupan iman Gereja yang diterima dari para Rasul, dijaga oleh Gereja dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
---
Ajaran Bukan Sekadar Teori
Kadang-kadang orang menganggap doktrin sebagai sesuatu yang kering dan jauh dari kehidupan.
Padahal ajaran Gereja justru menentukan bagaimana kita mengenal Allah.
Misalnya, pengakuan Gereja bahwa Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia bukanlah sekadar formula akademis.
Hal itu berhubungan langsung dengan keselamatan.
Jika Kristus bukan sungguh Allah, maka bagaimana manusia dapat dipersatukan dengan Allah?
Jika Kristus bukan sungguh manusia, bagaimana manusia benar-benar diselamatkan?
Karena itu ajaran bukan sekadar kumpulan teori.
Ajaran menjaga kita agar mengenal Kristus sebagaimana Gereja menerima-Nya dari para Rasul.
---
Dan Kemudian: Sakramen atau Misteri Kudus
Sekarang kita sampai pada bagian yang sangat indah.
Jika manusia membutuhkan keselamatan dan Kristus adalah sumber keselamatan, bagaimana manusia mengambil bagian dalam kehidupan Kristus?
Jawabannya tidak hanya melalui membaca atau mengetahui sesuatu tentang Kristus.
Manusia dipanggil untuk mengalami kehidupan Kristus di dalam Gereja.
Di sinilah kita berbicara mengenai Misteri-Misteri Kudus, yang dalam banyak konteks disebut Sakramen.
Dalam tradisi Orthodox, kehidupan Gereja secara keseluruhan memiliki karakter sakramental. Baptisan, Krisma, Ekaristi dan Misteri-Misteri lainnya bukan sekadar simbol kosong, tetapi bagian dari kehidupan Gereja dalam Kristus.
Karena itu Gereja tidak hanya berbicara tentang keselamatan.
Gereja menghidupi keselamatan itu.
---
Baptisan: Memulai Kehidupan Baru
Dalam Baptisan, manusia masuk ke dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
Rasul Paulus berkata:
“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”
— Roma 6:4
Baptisan bukan sekadar tanda bahwa seseorang menjadi anggota sebuah organisasi keagamaan.
Baptisan adalah permulaan kehidupan baru.
Manusia lama mati.
Manusia baru bangkit dalam Kristus.
---
Krisma: Kehidupan dalam Roh Kudus
Tetapi kehidupan baru tidak berhenti pada Baptisan.
Manusia dipanggil untuk hidup dalam Roh Kudus.
Dalam tradisi Orthodox, Krisma berkaitan dengan penerimaan karunia Roh Kudus.
Ini mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristen bukan sekadar perubahan identitas administratif.
Ada kehidupan baru yang harus dijalani.
Ada pertumbuhan.
Ada pertobatan.
Ada perjuangan melawan dosa.
Ada doa.
Ada kasih.
Ada pengudusan.
---
Ekaristi: Pusat Kehidupan Gereja
Kemudian kita sampai kepada Ekaristi.
Di sinilah hubungan antara Gereja dan Kristus menjadi sangat nyata.
Rasul Paulus menulis:“Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.”
— 1 Korintus 10:17
Ekaristi bukan sekadar acara simbolis ketika umat Kristen berkumpul.
Dalam iman Orthodox, Ekaristi merupakan persekutuan dengan Kristus dan mempunyai tempat sentral dalam kehidupan Gereja.
Kita tidak hanya berbicara tentang Kristus.
Kita datang kepada Kristus.
Kita menerima Kristus.
Dan seluruh kehidupan Gereja diarahkan kepada persekutuan dengan-Nya.
---
Sakramen Bukan Sihir
Namun ada satu hal yang harus diluruskan.
Misteri Kudus bukanlah sihir.
Air Baptisan bukan benda ajaib.
Minyak yang diberkati bukan benda magis.
Ekaristi bukan ritual mekanis yang bekerja tanpa iman dan pertobatan.
Misteri adalah karya Allah yang mengundang manusia untuk masuk ke dalam kehidupan-Nya.
Karena itu kehidupan sakramental harus berjalan bersama iman, pertobatan, doa dan kehidupan yang benar.
Kita tidak dapat menerima Misteri lalu hidup seolah-olah Kristus tidak mempunyai tempat dalam kehidupan kita.
---
Mengapa Tubuh Begitu Penting?
Sekarang kita mulai melihat hubungan yang sangat indah antara dua tema tadi.
Mengapa dalam kehidupan Gereja tubuh manusia begitu terlibat?
Dalam Baptisan, tubuh masuk ke dalam air.
Dalam doa, tubuh berdiri dan membungkuk.
Dalam membuat tanda salib, tubuh mengakui iman.
Dalam pengurapan, tubuh menerima minyak yang diberkati.
Dalam Ekaristi, manusia menerima Tubuh dan Darah Kristus.
Semua itu menunjukkan sesuatu yang sangat penting:
Kekristenan bukan agama yang membenci tubuh.
Tubuh adalah bagian dari manusia yang diciptakan Allah.
Karena itu tubuh harus dikuduskan.
Mata harus belajar melihat dengan kasih.
Mulut harus belajar berkata benar.
Tangan harus belajar melayani.
Kaki harus belajar berjalan dalam kebenaran.
Tubuh manusia bukan musuh keselamatan.
Tubuh juga dipanggil kepada kebangkitan.
---
Jiwa yang Terluka Membutuhkan Penyembuhan
Hal yang sama berlaku bagi kehidupan batin manusia.
Dosa melukai manusia secara mendalam.
Karena itu pertobatan bukan sekadar merasa bersalah.
Pertobatan berarti kembali kepada Allah.
Manusia mengakui dosanya.
Manusia merendahkan diri.
Manusia menerima pengampunan.
Manusia kembali kepada kehidupan Gereja.
Karena itu Gereja dapat dipahami bukan hanya sebagai tempat penghakiman, tetapi juga sebagai tempat penyembuhan.
Manusia datang kepada Kristus bukan karena dirinya sudah sempurna.
Manusia datang karena dirinya membutuhkan penyembuhan.
---
Tujuan Akhirnya: Theosis
Lalu apakah tujuan semua ini?
Apakah hanya supaya manusia menjadi orang yang lebih baik?
Lebih sopan?
Lebih bermoral?
Lebih rajin beribadah?
Semua itu baik.
Tetapi tujuan Kekristenan jauh lebih dalam.
Manusia dipanggil kepada Theosis.
Theosis berarti manusia mengambil bagian dalam kehidupan Allah oleh kasih karunia.
Bukan berarti manusia berubah menjadi Allah menurut hakikat atau esensi-Nya.
Manusia tetap manusia.
Tetapi manusia dipersatukan dengan Allah melalui kasih karunia-Nya.
Rasul Petrus menulis bahwa manusia dipanggil untuk menjadi:“peserta kodrat ilahi.”
— 2 Petrus 1:4
Inilah salah satu pusat spiritualitas Orthodox.
Keselamatan bukan sekadar melarikan diri dari hukuman.
Keselamatan adalah masuk ke dalam kehidupan Allah.
---
Maka Semuanya Kembali kepada Kristus
Sekarang kita dapat melihat hubungan antara kedua tema tersebut.
Tubuh, jiwa dan roh berbicara tentang manusia.
Gereja, ajaran dan Misteri Kudus berbicara tentang kehidupan manusia di dalam Kristus.
Manusia diciptakan oleh Allah.
Manusia jatuh ke dalam dosa.
Kristus datang menjadi manusia.
Kristus mati dan bangkit.
Kristus mendirikan dan menghidupkan Gereja-Nya.
Gereja menjaga iman apostolik.
Gereja mengajarkan kebenaran.
Gereja merayakan Misteri-Misteri Kudus.
Dan melalui kehidupan tersebut, manusia dipanggil untuk semakin dekat kepada Allah.
Maka kita tidak dapat memisahkan:
Kristus dari Gereja.
Gereja dari iman apostolik.
Iman dari kehidupan sakramental.
Kehidupan sakramental dari pertobatan.
Dan semuanya dari tujuan akhir manusia:
persatuan dengan Allah oleh kasih karunia.
---
Penutup: Untuk Apa Kita Hidup?
Pada akhirnya, pertanyaan tentang tubuh, jiwa dan roh membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih besar:
Untuk apa manusia hidup?
Bukan sekadar untuk bekerja.
Bukan sekadar untuk memperoleh kekayaan.
Bukan sekadar untuk mendapatkan jabatan.
Bukan sekadar untuk menikmati kehidupan.
Dan bahkan bukan sekadar untuk “menjadi orang baik”.
Manusia diciptakan untuk Allah.
Karena itu kehidupan Kristen adalah perjalanan pulang kepada sumber kehidupan.
Tubuh kita dipanggil untuk dikuduskan.
Pikiran kita dipanggil untuk diterangi.
Kehendak kita dipanggil untuk diarahkan kepada kebaikan.
Hati kita dipanggil untuk belajar mengasihi.
Dan seluruh keberadaan kita dipanggil untuk hidup dalam Kristus.
Gereja bukan sekadar tempat kita datang.
Gereja adalah kehidupan yang kita masuki.
Ajaran bukan sekadar sesuatu yang kita hafalkan.
Ajaran adalah kebenaran yang membentuk kehidupan kita.
Sakramen bukan sekadar ritual yang kita lakukan.
Misteri Kudus adalah kehidupan Kristus yang kita terima dan hidupi dalam Gereja.
Dan seluruh perjalanan itu menuju satu tujuan:
Theosis.
Bukan kehilangan kemanusiaan kita, tetapi menemukan kepenuhan kemanusiaan kita di dalam Allah.
Sebab manusia tidak pernah benar-benar menemukan dirinya ketika ia menjauh dari Penciptanya.
Manusia menemukan dirinya ketika ia kembali kepada Dia yang menciptakannya.
Dan pada akhirnya, seluruh perjalanan iman dapat dirangkum dalam satu nama:
KRISTUS.
Sebab di dalam Dia manusia menemukan kehidupan.
Di dalam Dia Gereja menemukan identitasnya.
Di dalam Dia kebenaran menemukan kepenuhannya.
Di dalam Dia Misteri keselamatan menjadi nyata.
Dan di dalam Dia manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Allah.
“Supaya Allah menjadi semua di dalam semua.”
— 1 Korintus 15:28
---
SUMBER DAN REFERENSI
Kitab Suci:
Kejadian 2:7; Matius 28:19; Yohanes 3:5; Yohanes 6:53–56; Kisah Para Rasul 2:42; Roma 6:3–11; 1 Korintus 10:16–17; 1 Korintus 12:12–27; 1 Korintus 15:35–49; Efesus 1:22–23; Kolose 1:18; 2 Petrus 1:4.
Referensi Orthodox:
The Orthodox Faith: The Sacraments; The Sacraments: Questions & Answers.
Referensi Kateketik:
Orthodox Catechism Project, The Holy Sacraments; Basic Teachings of the Orthodox Faith.
Referensi Patristik:
St. Athanasius the Great, On the Incarnation; St. Irenaeus of Lyons, Against Heresies; St. Maximus the Confessor, karya-karya tentang kehidupan dalam Kristus dan Theosis.
#Orthodox #TeologiOrthodox #GerejaOrthodox #Theosis #KehidupanDalamKristus
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles